Baca Berita

ATASI PERMASALAHAN SAMPAH

Oleh : sanur | 17 Januari 2012 | Dibaca : 6452 Pengunjung

Kawasan Sanur yang berada di Kecamatan Denpasar Selatan dan merupakan salah satu destinasi pariwisata menjadikan masalah lingkungan terutama sampah menjadi perhatian serius. Berbagai upaya penanganan masalah kebersihan dan sampah dilakukan Pemkot Denpasar bersinergi dengan aparat terbawah mulai dari Kaling / Kadus, Kades/lurah, dan Camat. Tidak ketinggalan Kelurahan Sanur, untuk mengatasi masalah lingkungan termasuk permasalahan sampah, Kelurahan Sanur telah menggalakkan sistem swaklola. Demikian disampaikan Lurah Sanur IB Alit Surya Antara Adnyana saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (17/1). “Untuk mengatasi permasalahan sampah di Kelurahan Sanur kami telah menerapkan sistem swakelola. Terlebih lagi untuk daerah-daerah yang tidak terjangkau oleh DKP Kota Denpasar,” ujar IB Alit Antara. Penanganan sampah secara swakelola sangat perlu dilakukan untuk meningkatkan peran serta masyarakat agar peduli terhadap lingkungan terutama masalah sampah. Disamping itu untuk meningkatkan swadaya masyarakat terhadap kebersihan lingkungan Alit Antara mengaku telah memberikan 450 tempat sampah untuk 9 lingkungan yang ada di wilayah Kelurahan Sanur. Berbagai usaha yang dilakukan Kelurahan Sanur memotivasi masyarakat lingkungan Sindhu Kelod mengelola sampah secara swakelola. Bahkan kepala lingkungan Sindhu Kelod sendiri telah mencoba mengolah sampah rumah tangga sendiri dengan harapan dapat mengatasi permasalah sampah. Kedepannya dia mengharapkan sampah-sampah rumah tangga dapat diolah masing-masing keluarga sehingga member nilai ekonomi. Kepala Lingkungan Sindhu Kelod Kadek Mudayasa mengaku penglolahan sampah rumah tangga yang dilakukannya untuk memotivasi masyarakat lainnya lebih peduli terhadap permasalahan sampah. Untuk di lingkungan Sindhu Kelod dalam mengatasi masalah sampah pihaknya telah menerapkan sistem swakelola. Bahkan dalam sistem swakelola yang diterapkan masyarakat Sindhu Kelod dilarang membuang sampah ke jalanan sehingga tidak tampak pemandangan sampah yang mengotori jalanan. Sampah rumah tangga yang dihasilkan harus tetap disimpan di rumah masing-masing sampai petugas mengambil ke rumah dalam waktu dua hari sekali. “Pengelolaan sampah secara swakelola seperti sekarang ini cukup membantu untuk menciptakan lingkungan Sindhu Kelod bebas dari pemandangan sampah di jalanan,” ujar Mudayasa. Bahkan saat ini pihaknya mengaku sedang mencoba mengolah sampah rumah tangganya sendiri dengan menampung dalam sebuah tabung untuk dijadikan kompos. Tabung sebesar 800 liter ini mampu menampung sampah rumah tangga dalam jangka waktu 4 bulan. “Bila semua masyarakat telah mampu membuat tabung tersebut tentunya dalam waktu empat bulan masyarat tidak membuang sampah kejalanan lagi,” ujar Mudayasa. Bahkan sampah yang diolah dalam tabung tersebut memiliki nilai ekonomi. Dari semua pengolahan sampah yang dilakukan diharapkan kedepannya lingkungan Sindhu Kelod menjadi kampung wisata yang bebas dari permasalah sampah. (Gst)


Oleh : sanur | 17 Januari 2012 | Dibaca : 6452 Pengunjung


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya :

 



Video
No Video.
Facebook
Twitter